TUGAS 4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DI SATUAN PENDIDIKAN MENENGAH
KELAS : PPKn SORE B/2
Nama : ALFAN HERJANDI
NIM : E1B117004
Email : alpanherjandi13@gmail.com
Blog : alfanjandi.blogspot.com
No Hp : 085397200906
TUGAS 4
Creative Summary : Faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan peserta didik di satuan pendidikan menengah
(SMA/MA/SMK/MAK)
A.Perkembangan Fisik
Pada usiah 12 – 19 tahun para peserta didik mengalami periode remaja transisi.yang
dimaksud periode transisi di sini adalah periode dimana peserta didik diantara
masa anak-anak dan usia dewasa.Di periode ini seorang peserta didik akan
mengalami perkebangan yang sangat besar,seperti : pertumbuhan
fisik,emosional,dan intelektualnya.
Perkembangan dan perubahan fisik sangat nyata pada peserta didik di usia ini.baik
dia laki-laki ataupun perempuan.Dalam rentang waktu beberapa tahun ini pesrta
didik mempersiapkan diri menjadi anggota masyarakat dewasa yang mandiri dan
membaur serta berkontribusi dengan masyarakat.
Perkembangan psikoseksual pun mengalami pematangan luar biasa atau biasa
disebut dengan pubertas.Pubertas adalah suatu penandahan bahwa masa kanak-kanak
berakir dan awal kematangan seksual.Pubertas ini tidak terjadi pada waktu yang
bersamaan atau kapan puberitas itu akan terjadi bagi seorang remaja laki-laki
maupun perempuan.Keduanya mengalami perkembangan secara stuktural dan hormonal
yang mencerminkan kesiapan reproduksi seksual mereka.
Ada dua karakteristik seks,yaitu : Karakteristik seks primer (Primary sex
characteristics) dan karakteristik seks sekunder (secondary sex
characteristics).Contoh karakteristik seks primer adalah penis anak laki-laki
dan Rahim pada wanita.dan contoh karakteristik seks sekunder adalah pertumbuhan
rambut kemaluan pada kedua jenis kelamin.selama masa kanak-kanak,laki-laki akan
menghasilkan hormon endrogen sama halnya dengan perempuan menghasilkan hormon
estrogen.
Tanda awal dari percepatan kematangan remaja adalah pertumbuhan atau
peningkatan secara nyata pada tinggi dan berat badan.percepatan pada wanita
biasanya dimulai antara usia 10 – 14 tahun dan berakir pada usia 16.sedangkan
pada anak laki-laki,biasanya dimulai antara usia 10 – 16 tahun dan berakir pada
usia 18 tahun.Perempuan umumnya yang lebih dulu mengalami pubertas daripada
anak laki-laki.
Ciri-ciri pubertas pada anak perempuan seperti : badan mereka tumbuh tinggi,pinggul
melebar,payudara menjadi bulat dan besar,rambut bertumbuh pada kaki,bawah
lengan,dan sekitar alat kelamin,labia menebal,klitoris memanjang,Rahim
membesar,dan menstruasi.ciri-ciri pada anak laki-laki,seperti : badan menjadi
lebih tinggi,besar,kuat,suara dalam mereka semakin tampak terdengar,bahu
melebar,rambut tumbuh dibawa lengan,wajah,sekitar alat kelamin,testis
menghasilkan sperma,mimpi basah,dan penis juga organ reproduksi lainnya membesar.pada
usia ini sesungguhnya anak laki-laki bisa menghamili lawan jenisnya.Anak gadis
remaja dan anak laki-laki sama-sama meningkat tinggi dan berat badannya,muncul
kecanggungan umum,naik-turunnya emosional,tumbuh jerawat,dsb.
B.Masalah Kesehatan
Tiga kemugkinan masalah kesehatan utama yaitu : gangguan makan,depresi,dan
penyalagunaan zat.
v Gangguan Makan
Gangguan makan sering muncul akibat keasyikan dengan makanan.ini berdampak
paling umum pada kalangann remaja,yaitu obesitas atau bisa disebut
kegemukan.diseluruh dunia sekitar 15 – 20 persen remaja yang mengalami
obesitas.
Kebiasaan mengurangi makanan dan menghindari obesitas pun bisa
berbahaya,yaitu dapat menyebabkan anoreksia nervosa atau kelaparan.Anoreksia
yang khas adalah model remaja yang terobsesi dengan membeli makanan,mamasak,dan
menyiapkan makanan,tetapi sangat sedikit makan.
Erat kaitannya dengan anoreksia adalah bulimia nervosa,berupa gangguan yang
mengikuti pola pembersihan makanan yang sudah dimakan .setelah makan sampai
kenyang,bulimia muntah,mengambil obat pencahar,atau olaraga keras untuk membakar
kalori yang baru saja dikonsumsi.Bulimia,seperti juga anoreksia.”Terobsesi
dengan makanan,berat badan,dan bentuk tubuh.Baik Anoreksia maupun bulimia
jauh lebih umum menimpa wanita dibanding dengan anak laki-laki.
v Depresi
Sebanyak 40% remaja memiliki masa depresi.jenis gangguan mood yang ditandai
dengan perasaan harga diri rendah dan tak berharga,hilangnya minat dalam
aktivitas kehidupan,serta perubahan pola makan dan tidur.depresi remaja sering
disebabkan oleh perubahan hormone ,tantangan hidup,dan masalah penampilan.dalam
hal ini perempuan remajalebih banyak menderita depresi dibanding dengan anak
laki-laki remaja.Konsekuensi nyata dan tragis dari depresi adalah bunuh
diri.faktor resiko yang menyebabkan orang yang merasaputus asa untuk bunuh diri
adalah “keasyikan”.
v Penyalagunaan Zat
Beberapa remaja, termasuk peserta didik menyalahgunakan zat atau obat-obat
Terlarang untuk menghindari rasa sakit, mengatasi stress sehari-hari, atau
untuk kepentingan “solidaritas” dengan rekan-rekannya yang merupakan bagian
dari aktivitas pergengan tertentu. Bahkan hal ini merupakan sebagai sebuah
simbol bahwa mereka sudah dewasa.
Penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang pun sangat marak di
Negara-negara berkembang “makin bertambah jumlahnya”. Sebaliknya di Negara-negara
maju diyakini jumlahnya cenderung makin berkurang disbanding dengan tahun
1960-an dan 1970-an. Di Amerika Serikat, studi tahun 1989 menunjukkan 35% dari
peserta didik sekolah menengah dilaporkan sedikitnya telah lima kali minum
berturut-turut dan setidaknya sekali dalam dua minggu sebelumnya, dihitung pada
saat penelitian.
C.Perkembangan Kognitif
Kebanyakan peserta
didik mencapai tahap operasi formal versipiaget pada usia sekitar 12 tahun atau
lebih, dimana mereka mengambangkan alat baru untuk memanipulasi informasi. Pada
fase sebelumnya ketika masih sebagai anak-anak mereka hanya bisa berpikir
konkrit. Ketika memasuki tahap operasi formal mereka bisa berpikir abstrak dan dedukatif.Titik
puncak atau jatuh tempoh perkembangan kognitif terjadi ketika peserta didik
sudah memasuki usia dewasa dan jaringan sosial makin berkembang ketika itu pula
kemampuan otak dan jaringan social menawarkan bereksperimen dengan kehidupan.
Karena itu pengalaman duniawi memainkan peran besar dalam mencapai tingkat operasi
formal.
Banyak hasil studi yang menunjukkan bahwa kemampuan rasional yang abstrak
dan kritis berkembang melalui proses pendidikan dan pembelajaran serta
pelatihan secara continue. Sebagai contoh: penalaran sehari-hari siswa
mengalami peningkatan sejak tahun-tahun pertama belajar hingga menamatkan
pendidikan jenjang tertentu. Hal ini menunjukkan nilai pendidikan dalam
pematangan kognitif itu dirangsang oleh continueitas dan konsistensi proses
aktivasi. Fenomena ini tidak untuk diberi makna bahwa kecerdasan intelektual
seseorang terus meningkat karena ada titik optimumnya.
Pengembangan Intelektual
Menurut Robert Sternberg, kecerdasan terdiri dari tiga aspek atau dikenal
dengan Triakis teori, yaitu
1.
Komponensial adalah aspek kritis
2.
Pengalaman adalah aspek berwawasan
3.
Kontekstual adalah aspek praktis.
Kebanyakan tes IQ hanya mengukur kecerdasan komponensial. Lebih jauh
dapat dijelaskan bahwa kecerdasan komponensial bermakna kemampuan untuk
menggunakan strategi pemrosesaan informasi internal ketika peserta didik
mengidentifikasi dan berpikir tentang pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil.
Kecerdasan ekperimental adalah kemampuan mentransfer pembelajaran secara
efektif untuk memperoleh keterampilan baru. Dengan kata lain kecerdasan
eksperimen adalah kemampuan untuk membandingkan informasi lama dan informasi
baru dan u ntuk menempatkan fakta bersama dengan cara yang asli.
Kecerdasan Kontekstual adalah kemampuan untuk menerapkan kecerdasan praktis
termasuk memiliki kepedulian sosial budaya dan kontoks historis. Suatu bagian
penting dari kecerdasan ini adalah pengetahuan diam-diam atau perolehan
pengalaman yang cerdas yang tidak secara langsung diajarkan.
Pengembangan Moral dan Penilaian
Sisi lain dari perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah menengah
adalah pengembangan moral dan penimbangan atau kemampuan berpikir tentang benar
atau salah. Lawrence Kholberg mengemukakan suatu teori perkembang moral
manusia termasuk peserta didik dengan tiga tingkat yang terdiri dari enam
tahap.
·
Ø Tingkat Pertama, moralitas prakonventional harus dilakukan dengan
alasan moral dan perilaku didasarkan pada aturan dan takut hukum (tahap 1) dan
kepentingan non empatetik diri sendiri (tahap 2)
·
Ø Tingkat Kedua, moralitas konvensional, mengacu pada kesesuaian dan
membantu orang lain (tahap 3), serta mematuhi hukum dan menjaga ketertiban
(tahap 4)
·
Ø Tingkat Ketiga, moralitas pascakonvensional, terkait dengan sifat
relative menerima dan berubah dari peraturan dan perundang-undangan (tahap5),
serta mengarahkan perhatian hati nurani dengan HAM (tahap 6).
Pencarian Untuk Identitas: Usia 12-19 Tahun
Peserta didik yang memasuki masa remaja berarti mereka berada pada periode
transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Perubahan hormon puberitas mempengaruhi
emosi peserta didik yang berusia remaja ini. Hal ini sering kali amat nyata
dalam perilaku mereka seiring dengan munculnya fluktuasi emosional dan seksual
muncul pula kebutuhan peserta didik berusia remaja untuk mempertnyakan otoritas
dan nilai-nilai sosial, serta batas kelayakan dan hubungan yang ada. Hal ini
sangat nyata dalam system keluarga, dimana kebutuhan remaja untuk kemerdekaan
dari orang tua dan saudara kandung dapat menyebabkan banyak konflik dan
ketegangan di rumah.
D.Orientasi Seksual Dan Seksualitas
Peserta didik pada usia sekolah menengah berusaha secara total menemukan
satu identitas,berupa perwujudan orientasi seksual yang tercermin dari hasrat
seksual,emosional,romantic,dan atraksi kasih sayang kepada anggota jenis
kelamin yang sama atau berbeda ataupun keduanya.seseorang peserta didik yang
tertarik pada anggota jenis lain disebut heteroseksual.dan sebaliknya,seseorang
yang menyukai anggota jenis kelamin yang sama disebut homoseksual.dan bagi
seseorang yang tertarik pada anggota dari kedua jenis kelamin adalah biseksual.
E.Kenakalan Remaja
Tekanan teman sepermainan atau rekan yang sangat selama masa remaja,
kadang-kadang begu-itu banyak sehingga remaja terlibat dalam tindakan-tindakan
antisosial berupa kenakalan remaja (juvenile delinguency). Seringkali
tindakan ini dilakukan menerpa kapada anak-anak di bawah umur. Ada dua kategori
kenakalan remaja.
1.
Anak-anak yang melakukan kejahatan dan dihukum sesuai sesuai dengan aturan
hokum, seperti perampokan.
2.
Anak-anak yang melakukan tindak pidana yang biasanya tidak dianggap
sebagai criminal, seperti membolos. Remaja laki-laki biasanya lebih banyak
melakukan banding dengan remaja perempuan.
Kemungkinan peserta didik usia remaja menjadi remaja nakal lebih
banyak ditentukan olehkurangnya pengawasan orang tua dan disiplin ketimbang
status social ekonom. Pemberontakan remaja dapat tumbuh dari ketegangan antara
“keinginan remaja untuk memenuhi kebutuhansecara segera” dan “desakan orang tua
agar menunda keinginan itu”. Orang tua yang tidak mampu melakukan pengawasan
dan mensosialisasikan “disiplin diri” dan “menakar kemampuan diri” biasanya
menimbulkan masalah bagi anak-anaknya di kemudian hari. Guru pun harus ikut
mempersuasi anak agar sebbisa mungkin menghindari tindakan “lebih esar pasak
dari pada tiang” itu.
Achmad
Sudrajad. (2008).Fungsi,Prinsip,dan Asas Bimbingan dan konseling.http:/akhmadsudrajat.wordpress.com
ULASANNYA :
Ada berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi proses perkembangan peserta didik di dalam satuan pendidikan
menengah (SMA/MA/SMK/MAK). Kita perlu
memahami dan mempelajari apa saja
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan bagaimana proses perkembangan peserta
didik.
Adapun
faktor tersebut yaitu, 1.Perkembangan Fisik, 2.Masalah Kesehatan yang dimana masalah kesehatan ini meliputi (Gangguan Makan, Depresi, Penyalagunaan
Zat) sehingga dapat mempengaruhi perkembangan peserta didik selanjutnya,
3.Perkembangan Kognitif yang dimana perkembangan kognitif ini juga
mempunyai bagian (Pengembangan Intelektual, Pengembangan Moral dan Penilaian
didalam pengembangan moral ini terdapat tiga tingkatan, Pencarian Untuk
Identitas: Usia 12-19 Tahun), 4. Orientasi Seksual Dan Seksualitas, 5. Kenakalan
Remaja
Komentar
Posting Komentar